Febri Kukuh Santoso
Febri Kukuh Santoso
Web Developer Full Stack Developer Mobile Developer Dev Ops
Febri Kukuh Santoso

Blog

Ketika Terlalu Ideal di Dunia Kerja IT: Pelajaran Mahal dari Over-Delivering

Ketika Terlalu Ideal di Dunia Kerja IT: Pelajaran Mahal dari Over-Delivering

Di dunia IT, kita sering diajarkan satu hal:
kerja bagus, hasil maksimal, nanti apresiasi menyusul.

Sayangnya, realita tidak selalu seindah itu.

Artikel ini bukan untuk menyalahkan perusahaan, atasan, atau sistem.
Ini adalah refleksi pribadi tentang bagaimana terlalu ideal dan over-deliver justru bisa menjadi jebakan—terutama bagi IT engineer yang bekerja sendirian di sebuah perusahaan.

 

Awal Masuk: Niat Baik dan Idealisme

Saya masuk ke sebuah perusahaan dengan niat sederhana:

  • Menyelesaikan ERP

  • Membantu operasional

  • Membuat sistem lebih rapi dari sebelumnya

Awalnya hanya satu orang IT.
Tidak ada tim, tidak ada senior, tidak ada manager IT.

Yang ada hanyalah:

  • Masalah

  • Excel

  • Sistem manual

  • Dan harapan besar bahwa “IT bisa beresin semuanya”.

Sebagai developer, refleks saya waktu itu sederhana:

“Kalau bisa dibikin lebih bagus, kenapa nggak?”

Maka mulailah:

  • Fitur tambahan

  • Improvement di luar scope

  • Aplikasi pendukung

  • Otomatisasi

  • Ide kreatif yang bahkan tidak diminta

Semua dilakukan dengan niat baik.


Kesalahan yang Baru Disadari Belakangan

Di titik ini saya baru sadar satu hal penting:

Dunia kerja tidak menilai niat, tapi struktur dan kesepakatan.

Beberapa kesalahan yang akhirnya saya sadari:

1. Over-deliver tanpa proteksi

Saya mengerjakan lebih banyak dari jobdesc tanpa:

  • Penetapan role yang jelas

  • Kesepakatan tertulis

  • Evaluasi kompensasi

Hasilnya?

  • Kerjaan dianggap “normal”

  • Ekspektasi naik

  • Tapi posisi dan gaji tetap


2. Idealisme tidak tercatat sebagai nilai

Ide-ide kreatif memang dipakai, tapi:

  • Tidak tercatat sebagai kontribusi strategis

  • Tidak mengubah posisi saya secara struktural

Di dokumen, saya tetap “support”.


3. Mensubsidi perusahaan tanpa sadar

Ini yang paling berat disadari.

Saya:

  • Menggunakan laptop pribadi

  • Menggunakan alat kerja dari client lain

  • Tetap produktif meski fasilitas tidak memadai

Tanpa sadar, saya menutup kekurangan sistem perusahaan dengan pengorbanan pribadi.

Dan itu berbahaya.


Ketika Vendor Masuk dan Realita Menampar

Saat perusahaan memutuskan memakai vendor dengan budget besar, saya baru benar-benar paham:

  • Perusahaan merasa lebih aman dengan kontrak vendor

  • Internal IT dianggap support, bukan owner

  • Knowledge yang saya bangun bertahun-tahun tidak otomatis menaikkan posisi saya

Di titik itu saya bertanya ke diri sendiri:

“Kalau saya pergi, siapa yang paling dirugikan?”

Jawabannya jelas: bukan saya saja.


Titik Balik: Berhenti Over-Deliver

Saya akhirnya mengambil keputusan yang tidak populer:

  • Tetap bekerja

  • Tetap profesional

  • Tapi berhenti over-deliver

Artinya:

  • Mengerjakan sesuai instruksi

  • Tidak menambah fitur tanpa diminta

  • Tidak berinisiatif di luar scope

  • Menjaga batas antara profesional dan idealis

Ini bukan malas.
Ini dewasa secara karier.

 


Pelajaran Penting untuk IT Engineer & Developer

Kalau kamu IT staff, developer, atau engineer—terutama yang bekerja sendirian—ini beberapa pelajaran yang mungkin relevan:

1. Idealisme itu bagus, tapi kontrak lebih penting

Kalau tidak tertulis, anggap itu bukan kewajiban.


2. Jangan over-deliver sebelum role dan kompensasi jelas

Naik kerjaan tanpa naik posisi = jebakan halus.


3. Alat kerja adalah tanggung jawab perusahaan

Menggunakan aset pribadi tanpa kejelasan itu:

  • Tidak aman

  • Tidak profesional

  • Merugikan diri sendiri


4. Profesional ≠ berkorban tanpa batas

Bekerja dengan batas bukan berarti tidak loyal.
Itu berarti menghargai diri sendiri.


Penutup

Artikel ini bukan ajakan untuk malas, apalagi sinis.
Ini ajakan untuk lebih sadar posisi.

Kadang, masalah terbesar di dunia kerja bukan perusahaan yang jahat,
tapi kita sendiri yang terlalu baik tanpa batas.

Kalau kamu sedang berada di fase ini, satu kalimat ini mungkin cukup:

“Berhenti berkorban bukan berarti berhenti profesional.”

Add Comment