Ketika Terlalu Ideal di Dunia Kerja IT: Pelajaran Mahal dari Over-Delivering
Di dunia IT, kita sering diajarkan satu hal:
kerja bagus, hasil maksimal, nanti apresiasi menyusul.
Sayangnya, realita tidak selalu seindah itu.
Artikel ini bukan untuk menyalahkan perusahaan, atasan, atau sistem.
Ini adalah refleksi pribadi tentang bagaimana terlalu ideal dan over-deliver justru bisa menjadi jebakan—terutama bagi IT engineer yang bekerja sendirian di sebuah perusahaan.
Awal Masuk: Niat Baik dan Idealisme
Saya masuk ke sebuah perusahaan dengan niat sederhana:
-
Menyelesaikan ERP
-
Membantu operasional
-
Membuat sistem lebih rapi dari sebelumnya
Awalnya hanya satu orang IT.
Tidak ada tim, tidak ada senior, tidak ada manager IT.
Yang ada hanyalah:
-
Masalah
-
Excel
-
Sistem manual
-
Dan harapan besar bahwa “IT bisa beresin semuanya”.
Sebagai developer, refleks saya waktu itu sederhana:
“Kalau bisa dibikin lebih bagus, kenapa nggak?”
Maka mulailah:
-
Fitur tambahan
-
Improvement di luar scope
-
Aplikasi pendukung
-
Otomatisasi
-
Ide kreatif yang bahkan tidak diminta
Semua dilakukan dengan niat baik.
Kesalahan yang Baru Disadari Belakangan
Di titik ini saya baru sadar satu hal penting:
Dunia kerja tidak menilai niat, tapi struktur dan kesepakatan.
Beberapa kesalahan yang akhirnya saya sadari:
1. Over-deliver tanpa proteksi
Saya mengerjakan lebih banyak dari jobdesc tanpa:
-
Penetapan role yang jelas
-
Kesepakatan tertulis
-
Evaluasi kompensasi
Hasilnya?
-
Kerjaan dianggap “normal”
-
Ekspektasi naik
-
Tapi posisi dan gaji tetap
2. Idealisme tidak tercatat sebagai nilai
Ide-ide kreatif memang dipakai, tapi:
-
Tidak tercatat sebagai kontribusi strategis
-
Tidak mengubah posisi saya secara struktural
Di dokumen, saya tetap “support”.
3. Mensubsidi perusahaan tanpa sadar
Ini yang paling berat disadari.
Saya:
-
Menggunakan laptop pribadi
-
Menggunakan alat kerja dari client lain
-
Tetap produktif meski fasilitas tidak memadai
Tanpa sadar, saya menutup kekurangan sistem perusahaan dengan pengorbanan pribadi.
Dan itu berbahaya.
Ketika Vendor Masuk dan Realita Menampar
Saat perusahaan memutuskan memakai vendor dengan budget besar, saya baru benar-benar paham:
-
Perusahaan merasa lebih aman dengan kontrak vendor
-
Internal IT dianggap support, bukan owner
-
Knowledge yang saya bangun bertahun-tahun tidak otomatis menaikkan posisi saya
Di titik itu saya bertanya ke diri sendiri:
“Kalau saya pergi, siapa yang paling dirugikan?”
Jawabannya jelas: bukan saya saja.
Titik Balik: Berhenti Over-Deliver
Saya akhirnya mengambil keputusan yang tidak populer:
-
Tetap bekerja
-
Tetap profesional
-
Tapi berhenti over-deliver
Artinya:
-
Mengerjakan sesuai instruksi
-
Tidak menambah fitur tanpa diminta
-
Tidak berinisiatif di luar scope
-
Menjaga batas antara profesional dan idealis
Ini bukan malas.
Ini dewasa secara karier.
Pelajaran Penting untuk IT Engineer & Developer
Kalau kamu IT staff, developer, atau engineer—terutama yang bekerja sendirian—ini beberapa pelajaran yang mungkin relevan:
1. Idealisme itu bagus, tapi kontrak lebih penting
Kalau tidak tertulis, anggap itu bukan kewajiban.
2. Jangan over-deliver sebelum role dan kompensasi jelas
Naik kerjaan tanpa naik posisi = jebakan halus.
3. Alat kerja adalah tanggung jawab perusahaan
Menggunakan aset pribadi tanpa kejelasan itu:
-
Tidak aman
-
Tidak profesional
-
Merugikan diri sendiri
4. Profesional ≠ berkorban tanpa batas
Bekerja dengan batas bukan berarti tidak loyal.
Itu berarti menghargai diri sendiri.
Penutup
Artikel ini bukan ajakan untuk malas, apalagi sinis.
Ini ajakan untuk lebih sadar posisi.
Kadang, masalah terbesar di dunia kerja bukan perusahaan yang jahat,
tapi kita sendiri yang terlalu baik tanpa batas.
Kalau kamu sedang berada di fase ini, satu kalimat ini mungkin cukup:
“Berhenti berkorban bukan berarti berhenti profesional.”


